Sudah seminggu berlalu sejak gadis itu mengatakan lelah dan penat dengan kehidupannya yang selalu saja penuh dan bising. Dan sudah seminggu juga gadis itu menarik diri dari keramaian. Menghabiskan waktu hanya untuk hal-hal yang benar-benar disukainya. Makan, tidur, menonton tivi, dan sesekali membaca. Tapi selama itu juga, dia tidak pernah menemukan kembali semangat dan gairah bekerja dan belajarnya. Bahkan semakin hari, kelelahan itu rasanya semakin menjadi – jadi. Tidak mau pergi. Sampai pada suatu sore, diantara hembusan angin laut, dibawah langit jingga keemasan, diatas barisan gedung – gedung pencakar langit yang seolah beradu tinggi, dengan mata terpejam, ia nikmati sore kala itu. Lalu dari kejauhan, terdengar azan mulai bersahutan dari pengeras suara musholla – musholla di bawah sana. Gadis itu mengenali pasti suara itu. Tapi asing sekali rasanya. Hingga alunannya menjadi semakin jelas, gadis itu menikmatinya. Untuk pertama kalinya, dia mendapatkan kemegahan langit di sore itu. Gadis itu mendengarkan dengan seksama. Menikmati setiap bait dan detik alunan panggilan Tuhan.
Allahu Akbar Allahu Akbar. Hatinya tegetar. Seolah baru saja terbangun dan tersadarkan, betapa kecil sekali dia berdiri dibawah langit ini. Bahkan dengan penuh kehinaan pada dirinya.
Asyhadu allaaa Ilaaha illaLlah. Gadis itu berdoa, Ya Allah terimalah kembali penghambaanku. Betapa bodohnya aku, berjalan dengan angkuhnya di bumi yang bahkan aku tidak ketahui ini.
Hayyaallash shalaaah. Gadis itu menangis sejadi – jadinya. Pikirannya terbawa kembali kepada ketika pertama kali dia bisa solat dengan benarnya. Ya Allah, berapa lama aku pergi dari-Mu? Bahkan sujud – sujudnku kini tidak terasa lagi.
Setelah sekian lama dia menemui Tuhannya dengan seadanya, kali ini, dan untuk seterusnya, gadis itu solat dengan penuh penghambaan dan tunduk.
Yang dicari telah kembali. Jiwa yang kosong dulu, mulai kini akan penuh lagi dengan kebaikan dan kebahagiaan, sekarang dan selamanya. Dan kelelahan yang selama ini ditanggungnya, seketika itu juga lepas dari punggung dan pikirannya. Seluruh hidup nya membaik secepat itu juga. Bisa jadi, ini mungkin yang namanya keajaiban. Ketika dulu dia menjauh, tak peduli seberapa banyak tidur, makan, dan libur yang dijalani, gadis itu tidak pernah merasakan kehidupannya satu detik pun. Hanya seperti mayat yang berjalan. Akan tetapi, hanya dalam 10 menit, semua kini kembali kepadanya. Dirinya. Hidupnya. Tuhannya.
Karena sesungguhnya, bukan kelelahan fisiklah yang selama ini ditanggungnya, tetapi jiwa, hati, dan pikirannya yang selama ini berteriak ingin dipertemukan dengan Tuhannya.
