siang itu. kudengar sebuah suara memanggilku. rasanya tidak asing, untuk memastikan, ku hentikan langkahku. dia rupanya. seseorang dari masa lalu. dengan langkah pastinya, dia menghampiriku. kami duduk diantara lalu lalang orang – orang dengan wajah lelah. tidak banyak yang kami bicarakan, hanya beberapa pertanyaan dan sedikit sekali jawaban. dan tepat sebelum rintikan hujan pertama bulan ini jatuh menghantam bumi, satu pertanyaannya telah terlebih dulu menjatuhkanku. menenggelamkanku pada sebuah pemikiran panjang tak berhujung. ini tidak adil.
akan kemanakah aku melangkah?
satu pekan telah berlalu sejak kejadian itu. dan selama itu pula, pikiranku telah larut dalam semua kacamata kehidupan. harapannya, jawaban itu dapat kutemukan. tetapi takdir berkata lain. yang dicari, belum juga ditemukan. aku kehilangan sebuah jawaban. tentang masa depan. waktu masih terus berlanjut, kehidupanku pun menjadi semakin sulit. aku dengan segala kebodohanku, memutuskan untuk menghindar.
bolehkah kusimpan dulu pertanyaan itu?
ternyata berlari itu amat melelahkan. dan pertanyaanmu itu rumit. tidak ada teori dan rumus fisika yang dapat menyelesaikannya. untuk mengakhiri semuanya, kurangcang sebuah pertemuan untuk kita, tanpa awan mendung pengundang hujan. lalu kusampaikan sebuah jawaban penangguhan.
tapi ini tentang tanggung jawab!!
aku tidak suka kamu. semua perkataanmu, selalu menyudutkanku. kalah telak lagi. bahkan tidak ada kata yang dapat membelaku. aku hanya bisa terdiam. ‘dia benar. dulu, ini adalah pilihanku.’ bahkan batinku pun telah berpihak kepadanya.
“baik, mari kita buat ini menjadi lebih mudah. kau mungkin benar, dan aku mungkin salah. begitu pun sebaliknya. maka, bantulah aku menemukannya. bantulah aku menyelesaikan segala kemungkinan. bantulah aku melihat dan mendengar segala kebenaran. genggamlah tangan ku agak aku tidak pernah lepas. iringilah langkahku. bisikkan aku kata – kata penggugah nurani. aku masih manusia!”
dan pertemuan itu pun berakhir. aku yang pergi terlebih dahulu meninggalkan. mengakhiri pertemuan dengan air mata yang tertahan. sampai sebuah pesan masuk ke dalam ponsel yang sedari tadi ku genggam kuat untuk meredam emosi.
maafkan aku. tak kukira pertanyaan itu akan membuatmu se-emosional ini. seharusnya kau bilang dari awal. sudah, tenangkanlah dirimu! aku akan menunggumu dari sini. seperti yang kau ajukan tadi.
dan aku terdiam lagi, untuk sekian lamanya.
mengapa kau hadir dengan segala pertanyaanmu, setelah sekian lama kamu menghilang?
