Suatu Pagi

Bisakah aku melihat senyum itu lagi? Untuk esok, lusa, sampai ribuan hari kemudian?

Ah. betapa mahal sekali perasaan ini. yang bahkan harta terbaik di seluruh dunia pun tidak dapat menukarnya. untuk sebuah pertemuan, berhari – hari lamanya hati harus menunggu. berharap, cemas, menghitung jam untuk satu jam pertemuan. jangan lagi tanya untuk senyuman. harganya, jauh lebih banyak. butuh jutaan detik malam untuk sekedar mendapatkan tiga detik senyuman.

dan pagi itu, transaksi itu pun terjadi. disaksikan seluruh alam. manis sekali rasanya. bahkan angin pun malu berhembus diantara keduanya. sepasang mata yang tertunduk, berbicara dalam hati bara, berjanji:

aku akan menanti lagi. menabung ulang waktu, untuk sebuah perasaan.

aku, dan sebuah senyuman. tentang perasaan yang ditumbuhkan oleh waktu. yang akan terus tumbuh bersama waktu.