Hati Perempuan Itu

Langit baru saja mengabarkan. Tentang seorang perempuan yang patah hati nya. Bibir nya memang tersenyum, mata nya pun terlihat bersinar, tetapi hati nya patah. Terinjak kawan yang sedari tadi duduk bersamanya di kedai itu. Dan benar saja, satu jam kemudian, setelah mereka akhirnya membungkus segala percakapan malam itu, gadis itu menulis sesuatu pada buku hariannya. Isinya begini:

Kalau hitunganku tidak salah, ini adalah kali yang ketiga. Tidak sama memang, tetapi serupa. Dan betapa betapa bodohnya aku, mengulangi nya lagi, dan lagi : Sama – sama menaruh hati pada laki – laki yang sama dengan orang yang ku sayang. Dua kali sebelumnya, adalah aku yang mengalah. Tidak tahu kalau saat ini. Bisa jadi tidak. Toh, tidak ada salah bukan?

I’ll deal with it.

Aku berjanji, tidak akan ada yang berubah dengan ini. Tidak dengan persahabatan ini, tidak juga dengan perasaan ini. Biarkan saja waktu yang menentukan. Dan aku akan terima hasilnya nanti. Jika memang satu yang harus dipilih, hari ini aku nyatakan, aku akan ikhlas.

Siapa yang tahu hati manusia, bisa jadi, esok/lusa semua akan berbalik 180 derajat.

Tidak ada air mata sama sekali di kertasnya. Mungkin harapan dan keikhlasan sudah cukup baginya untuk membuatnya hidup besok. Hati yang terluka itu, perlahan – lahan pasti akan sembuh. Entah seberapa banyak dan lamanya waku yang dibutuhkan.