Gerbong Kosong

‘priiiiiiiittttt’

seorang petugas stasiun meniup peluitnya. pertanda kereta siap untuk diberangkatkan. satu dua penumpang masih sibuk menata tas dan posisi duduk dengan napas tersengal – sengal karena berlarian mengejar kereta tadi. sisanya, ada yang tertidur, membaca buku, atau menatap kosong keluar jendela kereta yang sudah meninggalkan jauh stasiun. dan hanya sedikit dari mereka yang berbicara. semakin lama suasana di gerbong menjadi semakin sunyi. ini adalah perjalanan malam, sebagian besar penumpang sudah terlelap tidur beristirahat.

jika tidak ada masalah, kereta api bima ini akan menempuh perjalanan lintas provinsi selama 12 jam dengan tujuan akhir kota jakarta. ada 10 pemberhentian selama perjalanan ini. satu/dua penumpang turun dan naik dari stasiun pemberhentian. bergantian mengisi bangku – bangku kereta.

jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. lampu gerbong pun sudah dimatikan. pertanda waktu tidur untuk penumpang. tidak ada lagi yang berbicara. semua lelap dalam perjalanan panjang ini. kecuali seorang pemuda di bangku nomor 7F. matanya tetap menatap kosong ke jendela kereta yang gelap. memikirkan sesuatu.

2 jam berlalu. dan ia masih tetap dengan aktivitas nya. menatap jendela kereta yang gelap! wahai gerangan, perasaan macam apa yang sedang ditanggungnya saat ini?

sesaat lagi kereta akan segera berhenti di solo. begitu isi pengumuman yang disampaikan petugas kereta. seketika air wajahnya berubah menjadi tegang, dan kali ini satu airmatanya jatuh membasahi pipi.

‘aku rindu…..’ gumamnya.

adalah kekasihnya yang pergi meninggalkan pada ‘hal’ yang paling ia sukai. sebuah perjalanan kereta malam. dan sejak saat itu, semua hal menyenangkan itu hilang pergi bersama perginya sang kekasih. menyisakan gerbong yang kosong di pelupuk matanya. entah seberapa kuat ia mencoba melupakan, ia masih menyukai perjalanan ini, begitu juga dengan perasaan itu. sakit dan kosong.

gerbong ini hanya sepi dan tidak pernah kosong. hanya pikiran dan hatinya sendirilah yang menyiksanya sepanjang perjalanan ini. dan ia pun terbiasa dengan menyukai dan membenci dalam waktu yang bersamaa. diam.