Rumah Tanpa Atap

hanya satu-dua orang yang terlihat berjalan menuju ke rumah itu. dengan sarung tersampir di pundak dan tangan bergelangkan tasbih, menyusuri gelapnya jalan, dengan wajah sedikit cemas mereka bergegas.

“Tanda – tanda itu terlihat jelas pada hari ini. langit yang cerah. udara yang sejuk. suasana yang sepi lagi syahdu.” ujar seorang bapak tua kepada pemuda 20-an tahun disebelahnya.

“semoga benar begitu, ya pak” pemuda itu menutup percakapan dan lanjut pada aktivitasnya yang sempat terhenti selama 3 menit lalu karena sang bapak tua. begitu juga dengan seluruh tamu yang sedari tadi turut mendengarkan percakapan itu (ternyata rumah itu sudah sesak pengunjung). diam – diam mereka mendengar dan mengaminkan ucapan si bapak tua, lalu kembali kepada aktivitasnya yang lalu.

doa – doa terus diucapkan. berbagai macam permohonan disampaikan. beberapa melakukan pengakuan dan perjanjian baru. ayat – ayatnya, juga terus beradu bersahutan, mencoba merayu sang Maha memiliki. sesekali ada yang menangis tersedu hingga tersedak. semua pengunjung, larut dalam doa yang dalam.

‘Kami memohon keridha-an-Nya.’

dari rumah tua itu, doa – doa terus digumamkan penuh mengisi langit – langit. bergerak naik. menembus atap. menuju langit. menemui Tuhan.

dan dua pemuda yang baru saja bergabung dengan pengunjung itu pun, tanpa basa – basi langsung hanyut dalam tangis dan penyesalan yang teramat. doanya sejak datang hingga besok lusa pun tidak berubah. hanya :

‘ya Allah sesungguhnya engkau maha pemaaf. dan engkau mencintai orang yang meminta maaf. karenanya maafkanlah aku.’

lirih sekali.