I-B-U

Kata orang marah itu tanda sayang. Tapi bagiku, itu lebih dekat kepada kebencian. Dan seandainya aku bisa memilih, aku ingin memiliki hati yang tidak pernah bisa membenci. Yang tak mengenal marah. Yang jauh dari sebal dan kesal. Aku tidak ingin seluruh jiwaku sakit. Karena bersih/tidaknya hati adalah pertanda sehat nya jiwa. Dan betapa marah itu sangat menguras tenaga, juga air mata.

Jika marah itu tanda sayang maka, apakah marah karena diri sendiri juga termasuk? Sayang kepada diri sendiri begitu?

Sering aku berada pada masa dimana aku membenci diriku sendiri yang sedang marah. Mengapa begitu sulit rasanya untuk sekedar melapangkan hati, membiarkan sesuatu terjadi, menyaksikan itu berlangsung? Mengapa sulit? Maka aku memilih diam. Selama tidak ada hal yang menyebabkan kerugian orang banyak, diam dan menghindari debat kusir jauh lebih baik daripada memperparah suasana.

Karena bagiku, diam seorang wanita itu lebih berbahaya dibandingkan celotehnya. Bisa jadi, ada hati yang terbakar marah, menahan sakit, tetapi menyayangi dan menghormati dalam satu waktu disana. Amat rumit memang. Tetapi hati tetaplah hati, akan tetap lembut. Jika tidak percaya, lihatlah ibu kalian!