menatap-mu

Matamu adalah satu – satunya tempat yang tidak bisa kulihat. satu detik menatap, lalu aku menyerah. entah perasaan macam apa yang kini sedang ku peluk. ku takut menemukan kebenaran disana.

“apakah ada aku?”

“oh, benarkah dia?”

sejak awal memang ini adalah kesalahan. perlahan – lahan membangun harapan. perlahan – lahan pula kebenaran tersingkap. diri yang terlelap dalam bermimpi, tidak akan siap untuk berlari atau bahkan sekedar berjalan. lalu t-e-r-j-a-t-u-h. hancur.

pertahananku lagi – lagi roboh. dinding – dinding itu terbangun diatas konstruksi yang salah. goyah. satu air mata mengalir.