suatu kali ia bertanya : mengapa kau begitu menyukai mawar?
dan sejenak aku diam berpikir : entahlah. aku hanya merasa, aku ingin menjadi mirip dengan ia. cantik dan terhormat. indah jika bersama, tetapi menawan ketika sendiri.
seketika kami pun larut dalam pikiran masing – masing. hening. lalu aku bergumam : aku benar – benar ingin menjadi mawar.
ia mengangguk, tersenyum.
