entah berapa lama aku harus menunggu. menghitung setiap lembar daun yang jatuh, atau banyaknya kendaraan yang melintas, atau jumlah pengunjung yang silih berganti memasuki tempat ini. entah mengapa aku terus menunggu. berharap kau kan hadir, dari balik pepohonan yang sedari tadi kuhitung daunnya, dari dalam kendaraan yang sempat terhitung saat kau melintas, atau dari balik pintu yang sejak kudisini kuamati dan kuberdoa kau-lah yang datang pada hitunganku yang ke-100.
mungkin kau tidak tahu, tapi mungkin juga tahu. mungkin juga kau menunggu, tapi mungkin juga hanya aku yang menunggu. siapa pula yang akan tahu jika itu memang hanya ada pada pikiran kita masing – masing.
tetapi bila suatu hari nanti kau benar – benar tahu dan akan pergi, maka sampaikanlah oleh mu sendiri : pergilah. supaya aku tahu, bahwa aku benar – benar tidak perlu menunggumu lagi. sampai kapanpun itu.
seandainya dia ingin di dekatmu, siapkan ruang ternyaman untuk tinggal. jika ingin meninggalkanmu, beri ia sayap untuk terbang. cinta tak pernah berjodoh dengan keterpaksaan.
Novel Konspirasi Semesta (2016)
