Apa yang lebih menyakitkan dari sebuah batas?
Bahwa kita saling mendengar, saling melihat, saling merasa. Tapi tak terjangkau. Karena ada dinding pembatas yang terbentang antara aku dan kamu. kita dan mereka. aku dan dia. Seolah menyisakan harapan. Sedangkan jarak, hanya menyisakan rindu yang bisa habis oleh waktu. Tapi tidak untuk harapan yang justru kan semakin tumbuh bersama waktu.
Dan begitulah yang sedang terjadi. Ditengah ke-alfa-an kita, aku sedang mencoba menjauh menciptakan jarak. Perlahan – lahan. Supaya rindu terbiasa dan habis. Tetapi ia justru melakukan yang sebaliknya: Mendekat dan melukiskan batas. Yang teramat tinggi.
Diantara jarak dan batas, aku lebih menyukai jarak. Karena batas adalah jarak tanpa akhir.
