Bulan telah kehilangan cahayanya, kala kemilau nyala lampu pesta berganti dengan neon ruangan yang mengantarkan para tamu nya untuk pulang. Dan malam telah sempurna gulita, tanpa kerlingan genit gemintang yang tadi sore menyapa seluruh kota. Pesonanya telah redup. Seiring dengan melemahnya dentuman lagu dari tangan para dj malam itu. Satu per satu para tamu pun membanjiri jalanan, lalu hilang entah kemana. Berjalan terhuyung kesana kemari, sambil tertawa dan tersenyum getir.
Hati ini masih terasa sama. Rupanya gundah gulana itu masih juga tersisa, batinnya.
5 menit setelah pesta berakhir, semua lampu neon telah dimatikan. Seluruh ruangan menjadi gelap. Hanya tersisa dentingan gelas para pelayan yang berharap pekerjaannya akan segera selesai. Betapa kasur dan wajah tenang sanak menjadi sangat dirindukan.
10 menit kemudian pintu tokopun terkunci, menyisakan hening dan hampa di seluruh penjuru kota.
Lalu fajar pun tiba. Ketika sebagian baru saja terbangun untuk memulai hari. Dan sebagian lainnya baru saja pulang untuk menutup hari. Begitulah ibukota merawat anak-anak bangsa.
