Ternyata hatiku tidak sekuat itu. Untuk menyimpan amarah kepadamu. Untuk berhenti berbicara kepadamu. Atau sekedar berpaling dari tatapanmu. Ternyata aku tidak sekuat itu.
Pada akhirnya pertahananku tetap runtuh, saat kamu datang dan duduk bersama di dekatku. Meski ingin sekali ku bangkit dan bersembunyi, tapi kemudian kamu masuk ke dalam percakapan kami. Dan kamu terus mencoba berbicara kepadaku, menarik perhatianku yang sedari tadi kucoba jauhkan dari mu.
Hingga kata-kata awal dari setiap kalimat mu terdengar seperti gema yang membuat hatiku berdesir. Kalimat dan katamu, terdengar seperti permintaan maaf yang mungkin kamu pun tidak tahu mengapa. Oh! bagaimana bisa aku tidak menganggapmu ada kalau begitu. Dan kali ini aku ingin sekali berlari, kepadamu.
Lima detik menjelang, dan kini aku merasa bersalah. Karena marah pada siapa yang belum seharusnya.
