Empat kawan berjanji untuk makan bersama di sebuah tempat makan yang baru sebulan lalu melakukan pembukaan. Waktu perjanjian mereka adalah pukul 4 sore. Diperlukan waktu sedikitnya 30 menit supaya keempat anggota perkawanan itu lengkap duduk bersama dalam satu meja. Satu persatu mereka datang, dan mengisi kursi – kursi di sudut ruang yang paling fotojenik. Biar apa?
Lima menit setelah memesan menu, masing-masing langsung mengaktifkan ponsel dan membuka fitur kamera untuk berfoto. Untuk mengabadikan momen katanya. Lalu berfotolah mereka berkali-kali banyaknya hingga masing-masing mereka mendapatkan foto yang bagus dengan gaya yang berbeda-beda. Biar apa?
Katanya, pertemuan mereka itu untuk bercengkerama. Tapi faktanya, masing-masing seringnya sibuk pada layar ponselnya untuk membagikan momen (katanya begitu) kepada pengikut-pengamat mereka di sosial media. Memperbaiki foto sedemikian rupa, membuat ulasan pendek semenyentuh mungkin -saling memuji, menyanjung, mengagumi-. Biar apa?
Lalu pelayan datang membawa makanan-makanan pesanan mereka dan meletakkannya diatas meja. Lalu dirapihkannya lagi se-apik mungkin. Untuk dibagi di media itu lagi ternyata. Soalnya menarik bentuknya, kata salah satu diantara mereka. Dan yang lain pun mengikuti. Biar apa?
Sembari menghabiskan makan, mereka pun mulai saling bercakap. Satu bercakap, yang lain mengecap. Mendengar sambil menghabiskan makan, mana bisa? Apalagi jika mereka makan sambil berpikir bagaimana membuat kisah yang menarik untuk diceritakan. Biar apa?
Lalu malam menjelang. Dan masing-masing sudah harus pulang. Sampai salah seorang berkata, ayo foto dulu. Yang lain pun mengaminkan dan dipanggillah pelayan. Biar apa?
Dalam setiap langkah sejak pintu keluar resto hingga kendaraan mereka, masing-masing melepaskan senyum yang sedari tadi ditariknya hingga benar-benar hilang dan tak bersisa hingga dalam hati sekalipun. Dan mereka kembali sibuk pada urusan masing – masing hingga janji makan mereka selanjutnya. Dan berulang lagi begitu.
Biar apa?
