Setelah Kau Pergi

Masih kuingat betul bagaimana peristiwa saat kau pergi.

Hari itu, tanggal 20 Juli 2017, kita berjumpa di beranda rumah ku. Kau datang seperti biasa, tetapi bukan untuk urusan biasa. Masih pukul 6 pagi. Dan kau mengajakku untuk bertemu. Segera, katamu. Hanya kau, hanya kau yang tahu apa, kenapa, dan bagaimana peristiwa itu akan terjadi. Bahkan belum sempat asap kopi yang kubuat itu menguap, kau telah pergi hanya dengan satu alasan yang hingga kini masih tak kuanggap sebagai alasan: Kita tak lagi sama.

Oh, bukankah memang manusia itu berbeda? Bahkan sepasang anak kembar yang bersama sejak mengangkat kaki dari surga pun tetaplah berbeda. Maka bagaimana bisa kita pernah menjadi sama hingga menjadi tak lagi sama?

Seperti kilat pada badai di lautan. Semua kata dan kenangan tentangmu saling bersahutan melintas di depan mata lalu mengambang menjadi air mata. Melihat itu, kau hanya menepuk bahuku dua kali. Sedangkan dalam matamu, kutangkap kau berbicara bahwa ini yang terbaik dan kau akan menjadi lebih baik. Dan kau pun berlalu.

Hanya kau, yang berlalu. Karena pagi itu telah kusimpan sebagai sesuatu yang ingin kulupakan.

Hari ini, tanggal 20 Juli 2018, kau masih pergi dan belum kembali. Meski untuk satu kedipan mata.