Ternyata benar. Ibu itu seperti pondasi dalam rumah tangga. Sedangkan ayah adalah tiang – tiang penyangganya. Supaya rumah yang dibangun kokoh, jelas keduanya harus ada. Rumah tanpa pondasi, maka akan goyah. Rumah tanpa tiang, tentu akan rubuh. Tanpa salah satunya jelas bukan pilihan.
Tapi kehilangan sudah menjadi bagian dari cerita hidup manusia sejak dulu. Sebut saja nama tokoh – tokoh hebat. Semua pasti pernah mengalami kehilangan. Begitupun aku.
8 April 2019 menjadi tanggal yang tidak akan pernah terlupakan bagi kami. Hari itu, ibu ku pergi untuk selama – lamanya. Benar – benar selama – lamanya. 3 hari setelah pemakamannya, rasanya masih seperti mimpi: sedih, tapi ini faktanya. Lalu seminggu berlalu. Dua minggu. Dan itulah saat pertama kali aku mulai benar – benar merasakan, berat sekali rasanya hidupku setelah sepeninggalannya.
Ibuku meninggal (mudah-mudahan) dengan kondisi yang baik. Bahkan sangat baik. Tidak ada kesulitan yang ia berikan untuk kami, bahkan hutang satu rupiah pun. Tetapi pondasi rumah kami sudah hancur. Maka rumah kami mulai terasa sedikit bergetar.
Entah apa yang aku lakukan, atau kakak-adikku lakukan, atau ayahku lakukan. Perlahan – lahan, fakta – fakta lain tentang kami mulai terbuka. Sakit sekali rasanya untuk mengetahui semua itu. Patah, hati ku patah. Tapi sekali lagi, inilah faktanya. Dengan perlahan – lahan, aku perbaiki semuanya. Aku susun kembali susunan yang salah, aku rangkai kembali rangkaian yang pecah. Tapi angin berhembus semakin kencang.
Tiang rumah kami mulai bergoyang. Kali ini benar – benar membuat ku sangat khawatir. Bagaimana jika patah? Bagaimana jika roboh?
Lalu aku teringat, bagaimana ibu kami telah menumbuhkan kami menjati 5 pohon jati yang besar, tinggi, dan kuat. Yang kapanpun siap untuk menjadi penopang, menjadi hiasan, menjadi pelengkap.
Pondasi yang telah hancur, takkan bisa diperbaiki seberapapun dalamnya. Tetapi tiang yang telah patah, masih dapat bertahan apabila terbagi bebannya.
