Pagi itu aku berjalan dengan terburu – buru. Lima menit lagi bus tujuan ku ke tanah baru akan tiba. Aku berjalan dengan sedikit berlari, sambil berkali – kali melihat arloji di pergelangan tanganku, apakah aku dapat mengalahkan waktu untuk tiba di halte bus itu?
Aku hampir tiba. Halte bus sudah tampak di depan mata, tetapi ada sesuatu yang tidak biasa pagi itu. Mengapa orang – orang berlari menjauhi halte? Mau kemana mereka? Tetapi biarlah, bukankah itu berarti aku tidak perlu berdesakan pagi ini?
Lalu, seseorang tidak sengaja hampir menabrak ku. Maaf, katanya. Aku hanya mengangguk. Kulihat matanya tertuju pada sebuah gang sempit itu, tempat orang – orang berbondong. Dan sebelum ia pergi, kuberanikan diri untuk bertanya mau kemana?
Menonton kebakaran, ayo! Ujarnya sambil berlalu. Mendengar jawabannya itu cukup membuatku tercengang dan bergumam dalam hati,
Gila!
Tetapi diriku yang lain berkata,
Ah, tapi belum ada tanda kedatangan bus tujuanku. Dan aku belum pernah menonton yang satu ini. Apa salahnya jika mencoba? Lagipula kemarin bosku bilang ia tidak akan datang hari ini.
2 menit kemudian, aku adalah bagian dari kerumunan.
