Tengah hari ia datang kepadaku dengan setangkai bulan. Tapi bukan untuk diberikan, ia justru menanamnya di pekarangan rumahku. Tepat di bawah jendela kamarku. Aku hanya mengamatinya dari balik tirai, menahan diri untuk tidak bertanya itu apa dan untuk apa. Setelah selesai, barulah ia mengetuk pintu untuk memberi kabar
Sudah ku tanam bulan di sana. Enam jam lagi, ia akan menyala. Kabari aku jika kau suka. Jika tidak, besok aku akan menghilangkannya dari sana.
Ia pun berlalu. Hingga saatnya malam tiba, bulan itu benar menyala di balik jendela. Bulatan cahaya putih yang sempurna, tampak indah menghias jendela kamarku. Lalu kukirimkan sebuah pesan kepadanya
Bulannya menyala. Tapi ini terlalu indah untuk ku sendiri.
Buka jendela mu
Dari tempatku berdiri, kulihat ia tersenyum dan melambaikan tangan kepadaku, lalu menemaniku menikmati bulan berdua, hingga pukul dua. Sementara diatas sana, hanya ada langit gelap dengan gumpalan awan yang tampak keabuan. Yang cemburu melihat kami menghabiskan malam bersama sang rembulan, yang ia tanam di pekarangan rumahku.
