
Dalam dunia tanpa warna, suara, dan rasa
Dia asingkan dirinya dari semua keindahan yang ada di dunia
Dihilangkannya cara berbahagia atas nama kesetiaan
Supaya sakitku sejati, katanya
Maka kukirimkan kepadanya botol – botol kaca yang telah kuisi dengan bau – bau yang kuyakin dia kan suka
Botol abu adalah bau petrikor yang kuambil dari hujan di jumat pagi lalu setelah hujan turun dengan derasnya dan menyisakan tanah basah dan becek di halaman rumahku
Botol biru muda adalah bau musim dingin yang kuambil dalam perjalananku akhir tahun lalu ke britania raya, yang sengaja kusimpan sedikit untuk kuceritakan kepadanya
Botol oranye adalah bau laut yang kuambil saat matahari mulai beranjak dari persinggahannya dan angin dingin berhembus – hembus menerpa wajah kita hari itu
Botol merah muda adalah bau minyak wangi yang kau pakai dalam setiap kencan kami, bau yang kusuka, yang selalu membuatku ingin membawanya ke dalam pelukanku
Botol kuning adalah bau ruang tempat kami biasa menghabiskan waktu, yang kusimpan untuk kukenang seandainya ku tak lagi bisa bersamanya
Botol hijau adalah bau dedaunan yang bergoyang dan saling bergesek dari hutan lebat sepanjang pendakian gunung ciremai tiga tahun lalu
Itulah bau – bau yang kukira dapat menenangkannya, mewarnai lagi hidupnya, mengingatkannya betapa berharganya dirinya dulu dan kini di mata ku
