Tidak pernah rasanya ku tidak sesabar ini dalam menunggu. Tapi waktu betul – betul berjalan lambat kali ini. Andai saja kubisa mengendalikan waktu, kuingin tiba di 36 jam yang akan datang itu, hari dimana ia menjanjikanku sebuah kebenaran. Buah dari keberanian yang ia kumpulkan sejak 2 hari lalu.
Katanya, aku hanya perlu bersiap selagi ia juga menyiapkan hati. Hanya itu yang dikatakannya. Kusimulasikan segala kemungkinan yang mungkin hingga mustahil baginya untuk dikatakan, sampai hal -hal kecil dan sederhana yang mungkin sangat ingin ia katakan. Tapi semua itu hanya sampai pada asumsiku saja karena ada terlalu banyak kemungkinan yang tidak jelas kemungkinanannya.
Kini ku hanya berharap ku punya waktu untuk dapat mendengar kebenaran yang telah ia beranikan untuk sampaikan, dengan segala resikonya.
40 jam kemudian,
Aku telah mendengarnya. Meskipun begitu, ini terlalu samar. Tapi jika asumsiku benar, maka ini adalah hal paling mustahil yang telah kupikirkan beberapa jam terakhir ini. Tapi anehnya, aku tidak begitu merasa tenang.
