Di Dalam Cermin

Pertemuan pertama itu terjadi di dalam cermin. Saat dua bayang tanpa sengaja bertemu dan bertukar pandang. Hai. Begitu kiranya yang dikatakan dari sorot matanya yang menenangkan. Sapaan itu kemudian dibalas dengan senyumnya yang paling menyenangkan. Hai juga. Hanya itulah percakapan pertama mereka. Singkat, namun mengesankan.

Di pertemua kedua, mereka mulai saling mencari. Ia mengawali percakapan dengan tatapan yang sangat manis: senang bertemu dengan mu lagi. Yang ditatap pun tersenyum lebar, menunjukkan perasaan bahagianya karena juga berhasil menemukan. Aku juga, balasnya.

Lama kelamaan, pertemuan itu menjadi semakin panjang dan mendebarkan. Dengan sudut mata dan raut muka mereka terus saling berbicara dan menafsirkan. Begitulah cara mereka mengungkapkan apa-apa yang tidak kuasa disampaikan mulut. Juga mengartikan apa-apa yang ingin didengarkan telinga.

Di dalam cermin mereka saling menemukan kenyamanan. Tapi sayang, ikatan itu bersifat maya dan tidak pernah nyata. Karena semua pertemuan dan percakapan itu terbatas pada dinding-dinding cermin yang getas.