
Beberapa waktu belakangan ini, saya jadi melihat diri saya ke belakang karena kata-kata menyerah ini terus terngiang-ngiang di kepala saya.
Pernahkah saya menyerah? Pernahkah saya membuat orang menyerah?
Dua pertanyaan ini terus berputar-putar hingga memunculkan kekhawatiran kalau-kalau saya memang tidak layak untuk diusahakan lebih.
Tapi akhirnya saya menemukan keseimbangan bahwa saya juga pernah meninggalkan dan ditinggalkan.
Saya pernah meninggalkan beberapa orang karena rasanya saya sudah terlalu jauh untuk mengejarnya. Jadi saya lepaskan dia pergi.
Tapi saya juga tahu, bahwa ada orang-orang yang pernah mengejar saya tanpa henti, atau bahkan tetap menunggu saya hingga kembali. Dan itu membuat saya merasa teristimewa.
Karena itulah, saya putuskan saya belum ingin menyerah sepenuhnya. Pintu saya hanya tertutup tapi tidak pernah terkunci lagi. Jadi datang dan bukalah pintu ini kapanpun juga. Saya pastikan ada ruang untuk tinggal, di tempat yang tidak pernah tergantikan.
Sedangkan untuk mereka yang sudah meninggalkan saya, maaf saya terlambat untuk menyadari. Tapi masihkah saya memiliki tempat di dalam sana? Karena saya masih ingin kembali jika diizinkan, hanya jika diperbolehkan.
