Terlupa

Suatu kali, ketika dalam sebuah percakapan tentang masa depan dengan seorang teman, saya reflek berkata “kali ini saya tidak mendoakan ya, soalnya saya meragukan doa saya“. Lalu lawan bicara saya membalas, “kenapa bilang begitu? memangnya kamu yang menentukan?

Mendengar responnya itu saya hanya bisa diam dan bersepakat dengannya ‘benar juga yang dia katakan’. Entah kenapa dan bagaimana saya bisa berpikir seperti itu, tapi akhirnya saya menyadari bahwa tidak sepantasnya saya berpikiran seperti itu. Meskipun saat itu saya masih tidak tahu apa masalahnya dan bagaimana seharusnya.

Sampai suatu kali saya melihat postingan ulang seorang kenalan tentang sebuah buku yang berjudul “Secrets of Divine Love”. Saat itu, ada 3 hal yang mendorong saya untuk membeli buku ini dalam hitungan detik:

1. Buku ditulis dalam bahasa inggris, sedangkan saat itu saya sedang berniat untuk mulai membaca buku lagi dan untuk mengasah kemampuan bahasa inggris saya, saya mengingkan sebuah buku dalam bahasa inggris.

2. Buku ini berbicara tentang spritual, dan kebetulan saya baru saja menyadari kalau saya perlu sebuah media yang dapat mengingatkan saya tentang tujuan hidup saya lagi, tentu dari sudut pandang agama.

3. Melihat bagaimana kenalan saya ini sangat menginginkan buku ini membuat sedikit ego saya merasa tidak ingin ketinggalan dan akhirnya membulatkan alasan saya untuk mendapatkan buku ini.

Pukul 10 malam pesanan saya buat dan buku ini tiba di sore keesokan harinya. Dalam sistem perbelanjaan online ini adalah yang tercepat karena biasanya dibutuhkan waktu setidaknya 1×24 jam untuk pengiriman. Ketika saya memegang buku ini, halaman pertama yang saya baca adalah paragraf terakhir dari bagian terakhir buku yang diawali dengan kalimat:

You matter to Allah and he loves you unconditionally.

Setelah saya tuntas membaca paragraf tersebut, untuk pertama kali dalam hidup saya, setelah membeli ratusan buku, saya merasa bersyukur karena telah memutuskan untuk membeli buku ini. Ini adalah buku yang saya butuhkan untuk pikiran dan batin saya.

Selama ini saya telah lupa esensi hidup saya di bumi, hingga saya merasa kosong atas ibadah yang saya lakukan. Saya lupa bagaimana cara berdoa sehingga saya meragukan ke-Maha Sempurna-an Tuhan saya atas apa yang terjadi pada hidup saya. Saya lupa bahwa Ia selalu menunggu, menyambut, menerima, mendengar, mengabulkan, melindungi, membimbing, merahmati, hingga mengampuni hamba-Nya dari segala episode kehidupannya. Bahkan saya juga melupakan bahwa semua hal yang terjadi di hidup saya ini adalah atas ijin Nya, bagian dari ketentuan-Nya, termasuk bagaimana akhirnya saya membaca buku ini.