
Sebagai seseorang yang penuh dengan rencana, menghadapi situasi yang tidak sesuai bayangan bisa menjadi stress tersendiri buat saya. Apalagi kalau situasi itu bukanlah sesuatu yang bisa saya kontrol seperti misalnya melibatkan orang lain atau disebabkan hal lain di luar kuasa saya. Insting kekanakan saya akan membuat saya cranky dan menjadi sangat tidak menyenangkan.
Februari 2013 adalah kali pertama saya menjalankan ibadah umroh. Saat itu usia saya 17 tahun. Dan kami pergi dalam rombongan satu keluarga. Saat kami menginjakkan kaki di kota jeddah, gerbang masuk pertama jamaah internasional sebelum menuju kota mekkah atau madinah, kami menghadapi ujian yang pertama: sabar.
Saya masih ingat, dini hari, sekitar pukul 2 pagi, pesawat kami telah mendarat di landasan bandar udara King Abdul Aziz. Namun selama 4 jam kami tertahan di pintu imigrasi bersama ribuan jamaah dari berbagai negara. Berdasarkan pengamatan, para petugas itu seperti sedang mogok kerja, tidak mau melayani. Jadilah di sebuah area yang sempit, kami harus menunggu, mengantri, dan berdesakan. Dan ukuran tubuh orang Indonesia yang lebih kecil, membuat kami seringkali terdorong dan tertarik oleh orang-orang dari Mesir dan Turki. Kami kalah besar dan kuat.
Payah sekali rasanya suasana saat itu. Dan jika tidak untuk umroh, sepertinya saya sudah akan menyerah kepada ego. Saya mungkin akan marah-marah dan nangis, andai aja ayah saya tidak mengingatkan: Ya beginilah ujian sabar memasuki tanah haram. Saya pun mencoba mencari hikmah sambil berusaha membangun suasana supaya lebih menyenangkan: dengan mengobrol dan bercanda. Dan betul saja, tidak lama setelah itu, petugas imigrasi mulai memprioritaskan penumpang dari penerbangan kami. Kami pun lolos dari imigrasi pada pukul 6 pagi. Dan karena kami telah memilih untuk bersabar, rasa senang saat tiba di kota Madinah itu terasa seperti kemenangan. Setelah hari itu, rasanya tidak ada lagi hal yang menjengkalkan yang membuat saya harus lagi bersabar hingga kepulangan.
Lalu di Maret 2019, saya kembali menjalankan ibadah umroh. Tapi kali ini, saya pergi hanya bersama ayah, ibu, juga 2 orang lain kerabat. Karena saya sudah ada pengalaman, maka sebagai seorang perencana, saya sudah membayangkan apa-apa saja hal yang ingin saya lakukan. Namun ujian kesabaran itu kini datang dalam bentuk yang lain. Kali ini, saya diuji untuk menahan semua kehendak saya. Karena di perjalanan kali ini, kami berumroh seolah untuk mendampingi ibu menjalankan ibadah umrohnya untuk yang terakhir kali sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya satu bulan kemudian.
Saat itu, kami berangkat bersama dengan ibu yang sudah tidak sehat. Ibu memang sedang dalam kondisi terbaiknya, tapi ia tetap harus berada di kursi roda sepanjang perjalanan. Saya dan ayah pun berbagi tugas. Ayah yang akan mendorong-dorong saat menuju masjid, sedangkan saya yang bertugas untuk mendampingi ibu saat solat, seperti mencari tempat solat dan membantu wudhu. Namun, mendampingi ibu tentu membuat semua ekspekstasi ibadah saya hancur karena saya harus mengikuti ritme ibu. Sehingga target-target ibadah saya semua meleset dari rencana. Tapi syukur alhamdulillah, saya masih dapat salat di dalam masjid 1-2 kali dan melakukan tawaf di dekat kakbah dengan menyampaikannya terlebih dahulu sehingga kami bertiga bisa sama-sama bersiap.
Lalu, hari ini, 17 September 2022. Saya kembali duduk di pelataran masjid nabawi untuk menuliskan cerita ini: Ujian kesabaran lainnya dalam perjalanan umroh yang ketiga. Yaitu, sabar untuk menerima ketetapan dan takdir Allah. Awalnya, kami dijadwalkan untuk berangkat pada 8 September. Namun, karena perubahan sistem dan harga, tiket pesawat kami harus dibatalkan pada malam sebelum keberangkatan dan perjalanan kami tertunda hingga lima hari kemudian. Tapi ujian takdir ini bukan di situ.
Beberapa hari sebelum keberangkatan tanggal 8 sebetulnya saya sudah menduga saya akan haidh. Saya pun mulai berhitung. Jika semua berjalan sesuai rencana, maka seharusnya saya masih akan dapat beribadah untuk beberapa hari saat di sana. Namun, Allah menakdirkan yang lain: keberangkan kami ditunda. Dan benar saja, satu hari sebelum keberangkatan saya haidh padahal agenda umroh dijadwalkan untuk langsung dijalankan saat tiba malam hari nya di Mekkah. Saya berhitung lagi. Jika siklus saya ini berakhir dalam 6 hari, maka setidaknya saya akan suci saat di Madinah.
Sebenarnya, bisa saja jika saya ingin menunda siklus ini dengan mengonsumsi obat. Tapi saya tidak mau karena saya punya riwayat buruk tentang siklus haidh ini sehingga saya khawatir ini akan berefek samping berat. Sehingga, dua hari pertama di Mekkah kami mulai menyusun rencana-rencana tentang bagaimana saya akan bisa umroh. Setelah bertanya-tanya ke beberapa orang yang paham fiqh, maka pilihan terbaiknya adalah saya menjalankan umroh beberapa jam sebelum meninggalkan Mekkah pada jumat siang. Maka, pada kamis pagi, kami pergi keluar kota Mekkah untuk mengambil miqat.
Keesokan harinya, pukul 11 pagi, saya berangkat ke Al-Haram untuk menunaikan ibadah umroh bersama Ayah. Namun, karena waktu telah mendekati solat jumat dan kami tidak punya banyak waktu karena sudah harus checkout pukul 13.30, maka ayah saya hanya sempat menemani saat tawaf. Sehingga saya menyelesaikan sai dan tahalul seorang diri. Pukul 12.50 saya telah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah. Lalu pada pukul 14.00, kami meninggalkan kota Mekkah menuju kota Madinah.
Kami akan berada di Madinah selama dua hari, dan kembali ke Jakarta pada 19 September. Namun saat saya menuliskan ini, saya masih belum juga melihat tanda-tanda akan suci. Sehingga, sepertinya saya juga akan melewatkan shalat dan berdoa di raudhah kali ini. Tapi tidak apa. Semoga saja saya masih punya kesempatan untuk kembali ke sini dan melaksanakan rencana-rencana ibadah yang saya punya sejak 3 tahun lalu. Tidak ada yang sia-sia dalam perjalanan ini.
