Memang ada banyak cara untuk menuju Mekkah, tapi pergi haji akan selalu menjadi tujuan semua muslim untuk meraih kesempurnaan. Termasuk aku.
Sebagai agama mayoritas dengan jumlah pemeluk lebih dari 230 juta jiwa, tidak mudah bagi kami untuk pergi haji ke tanah suci. Jika saja kita melupakan takdir Allah, ku rasa orang-orang sudah akan menyerah dalam mengupayakan haji. Coba saja pikir. Pada tahun 2024 saja, masa tunggu haji sudah 20-30 tahun. Bagaimana kalo baru bisa daftar di usia 30? 40? Lalu 50? Apakah masih mungkin untuk berangkat dalam kondisi sehat dan kembali dengan selamat?
Untung saja haji itu perkara Allah. Ia yang menentukan. Ia yang menyiapkan. Manusia hanya perlu mengupayakan.
Maka di usia 25, aku mulai perjalanan haji ku dengan membuka tabungan haji. Lalu menyisihkan tabungan dan sebagian gaji.
3 tahun kemudian, tepat pada hari postingan ini dituliskan, akhirnya aku mendaftar antrian haji.
Mendaftar haji ternyata sekarang bisa dari aplikasi. Nomor validasi yang dulu harus diambil di customer service bank, kini bisa diambil dari aplikasi. Masukkan saja keyword haji di kolom pencarian. Lalu pilih pembayaran awal dan ikuti proses nya. Nanti, saldo tabungan akan terpotong 25 juta dan kita akan mendapatkan email bukti validasi untuk pendaftaran di Kementerian Agama.
Pendaftaran ini juga sudah bisa melalui aplikasi haji pintar. Pilih saja menu pendaftaran haji. Lalu masukkan nomor validasi dan NIK. Upload semua berkas. Kemudian tinggal tinggal tunggu verifikasi sampai keluar SPH dan nomor porsi.
Ini adalah tahap awal dalam sabar menunggu karena pendaftaran dari aplikasi tidak langsung disetujui. Butuh beberapa hari kerja. Setelah ini, sudah bukan lagi urusan kita. Hanya perlu berdoa dan memantaskan diri saja, sehingga Allah mau menemui kita. Di Arafah.
