Banyak orang yang bilang, aku pemberani. Padahal aku ini peragu. Sampai hari ini pun aku masih seorang peragu. Aku hanya beruntung karena dipercaya dan didukung untuk melakukan apapun. Meskipun pada prosesnya aku pasti ragu lagi.
Entah berapa kali ku harus berbicara dengan diri sendiri untuk yakin lagi. Ketika transit 7 jam seorang diri di singapura. Ketika pergi naik-turun kereta dengan koper 25 inch melintasi kota di jepang seorang diri. Ketika ditugaskan mengerjakan sesuatu yang tidak pernah kupelajari sebelumnya. Ketika dipercaya mewakili lembaga untuk berkomunikasi dengan orang luar.
Ketika semua itu terjadi, aku ragu-ragu. Dan masih akan ragu-ragu. Tapi aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan apapun lagi.
Seperti ketika kali pertama aku menyerah pada keragu-raguanku sendiri. Jerman.
