
Di dalam buku ini, ada satu bab yang membahas tentang bagaimana, kenapa, dan apa manfaat dari manusia bisa bermimpi.
Ringkasnya, kita bermimpi saat tidur dalam kondisi REM atau rapid eye movement sleep. Jika umumnya pada saat tidur aktivitas otak cenderung menurun, dalam kondisi REM justru 4 area otak menjadi sangat aktif dibandingkan ketika tidak tidur. Area tersebut adalah visuospatial, motor cortex, hippocampus, lalu amygdala dan cingulate cortex. Meningkatnya aktivitas otak pada area regulator emosi akan menjelaskan apa kegunaan dari mimpi dan bagaimana mimpi dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang.
Seseorang biasanya bermimpi karena adanya peristiwa emosional yang terjadi di hari itu. Tapi, untuk dapat masuk ke dalam kondisi REM, kadar norepinephrine atau noradrenaline seseorang harus cukup rendah. Mimpi yang muncul dalam kondisi inilah yang akan dapat menjadi terapi atau penenang dari peristiwa yang traumatik atau emosional. Ketika terbangun, ia akan mendapatkan emotional resolution sehingga emosinya menjadi lebih stabil meskipun baru saja mengalami peristiwa yang traumatik atau menyakitkan.
Temuan ini sepertu membuka harapan untuk penanganan PTSD pada korban perang. Karena untuk mengobati trauma penderitanya, yang dibutuhkan hanyalah tidur REM, mimpi, dan kadar noradrenalin yang rendah. Dan ini bisa dicapai dengan mengonsumsi obat penurun tekanan darah.
Selain itu, tidur REM juga diketahui dapat meningkatkan kemampuan sosialisasi seseorang karena saat tidur kita melakukan decoding emosi. Dengan decoding, kita akan dapat mengenali berbagai respon emosi seseorang. Ini akan sangat berguna untuk menghindari kesalahan dalam bertindak akibat salah mengenali emosi. Salah menilai mana teman mana lawan. Salah dalam membaca keadaan hati seseorang.
