Pernah dengar nasihat, “Jika hidupmu sedang tidak baik-baik saja, maka bepergianlah.” Menurut saya, nasihat itu benar, tapi belum utuh. Di belakangnya perlu ditambahkan lagi: “…seorang diri.”
Sebab, hanya ketika bepergian sendirilah kita akan memiliki waktu untuk mengeksplorasi diri—sekadar berbicara dengan diri sendiri, mengevaluasi perasaan, mengatur prioritas, menyusun rencana, hingga menemukan sisi lain dari diri yang selama ini terpendam. Jadi, jika alasanmu pergi adalah untuk mengasingkan diri dari rutinitas, maka bepergianlah sendiri. Namun pada perjalanan kali ini, saya memutuskan untuk ikut tur. Dan pada hari kedua, saya sudah bisa menyimpulkan: “Saya tidak cocok pergi bersama tur.”
Tulisan ini saya buat pada hari keempat perjalanan. Pagi ini, saya baru menyadari apa yang sebenarnya saya butuhkan dari sebuah perjalanan. Saya butuh waktu untuk berpikir dan berpetualang. Saya ingin menjalani hari dengan santai, pelan-pelan, hingga merasa bosan. Saya ingin merasakan petualangan mencari jalan ke suatu tempat yang asing. Saya butuh interaksi sederhana tanpa harus menjelaskan siapa diri saya. Saya ingin menawarkan bantuan memotret kepada orang-orang yang terpaksa harus selfie. Saya ingin berbuat baik tanpa harus menimbang-nimbang apakah mereka layak diperlakukan baik.
Saya bepergian untuk mengeksplorasi dunia—sejarahnya, makanannya, budayanya. Tapi orang-orang dalam tur kebanyakan bepergian untuk mencari validasi: sebagai si paling traveler dengan banyaknya negara yang pernah dikunjungi, atau si paling modis dengan outfit kece badai meski gerah dan luka-luka. Saya tidak bisa memahami keduanya. Saya tidak paham kenapa sepatu tinggi layak tetap dipakai untuk berjalan jauh dan menanjak. Saya tidak paham kenapa nasi, mi, dan lauk harus dibawa dari rumah untuk dimakan di sini. Buat saya, semua itu merusak esensi traveling: mencoba hal-hal yang tidak ada di zona normal kita.
Di mata saya, dunia mereka terlihat sangat rumit. Atau mungkin, hanya pikiran saya saja yang terlalu sederhana?
