Pelajaran #2: Jangan Menjadi Pewaris yang Durhaka

Kami baru saja membeli sebidang tanah untuk pengembangan usaha keluarga. Tanah itu merupakan waris, dari kedua orang tua yang sudah wafat. Otomatis, hasil penjualannya akan dibagi rata kepada 6 anak pewaris. Luas tanahnya ada 1100-an meter persegi. Tapi yang ditansaksikan harusnya sekitar 1000-an meter saja, karena di tengahnya ada dua jalan setapak yang sudah diwakafkan oleh kedua orang tua semasa hidupnya.

Inilah pelajarannya. Semua ahli waris merasa keberatan dengan 80-an meter persegi tanah yang telah diwakafkan untuk jalan itu! Mereka ingin menjual seluruh luasan tanah itu, termasuk jalan yang sudah diwakafkan.

Ini bukan urusan kami sebenarnya. Tapi kami jadi dapat pelajaran: bagaimana keserakahan pewaris bisa memutuskan pahala pemberi waris.

Terus terang, kami sama sekali tidak berpikiran untuk menguasai lahan jalan itu meskipun lokasi jalannya yang berada di tengah-tengah area lahan. Rencananya, kami hanya akan memindahkan posisi jalannya saja, sedangkan seluas jalan itu akan tetap dipertahankan sebagai akses warga sekitar. Tapi para pewaris tersebut seolah-olah dirugikan dengan amal orang tuanya, yang didapatkan bukan dari hasil keringat mereka.

Tapi ini bukan urusan kami. Jadi sebagai pembeli, maka tugas kami sangat mudah. Karena para pewaris telah memutuskan membatalkan wakafnya, maka kami tinggal membayarkan tanahnya dan menggunakannya sebagai aset pribadi. Sekian.