Meskipun Takut

Setelah melalui beberapa solo trip, saya sampai pada kesimpulan baru: solo trip itu menyenangkan, tapi akan lebih menyenangkan kalo ramai-ramai.

Dari orang-orang yang saya temui, beberapa kali mereka bilang, hebat yaaa kamu berani pergi sendiri. Tapi seandainya aja mereka tahu kalo ini adalah pilihan yang paling memungkinkan buat saya. Dan keberanian itu, tidak muncul sejak awal. Tapi tumbuh karena keadaan. Dan menjadi berani bukan berarti tidak punya rasa takut.

Dalam setiap trip selalu ada momen saya merasa takut dan berharap andai saja saya tidak sendiri.

Seperti ketika saya sudah se-jam muter-muter di tengah pemukiman Tokyo karena ga nemu pintu masuk stasiun.

Atau ketika saya ga nemu jalan besar di Kyoto pas udah gelap dengan jalanan yang sepi dan dingin.

Atau ketika saya muter-muter di gang Monaco karena gatau di mana rombongan.

Dalam keaadaan seperti itu, seringkali saya hampir nangis. Tapi saya punya mimpi yang lebih besar. Jadi, ketakutan-ketakutan itu akan saya hadapi meskipun harus sambil nahan air mata.