
Dipikir-pikir, zuppa soup adalah menu yang hampir selalu saya pesan kalo tersedia di sebuah restoran—bahkan di restoran yang baru pertama kali dikunjungi sekali pun. Padahal, rasanya sering kali biasa saja. Ya sudah, begitu saja.
Pagi ini, akhirnya saya menemukan alasannya.
Di bawah sadar saya, zuppa soup ini bukan sekedar makanan pengisi perut. Tapi ini adalah wujud dari pencapaian saya hari ini.
Saya tumbuh dan besar di tengah keluarga sederhana dan sangat tradisional. Di waktu kecil, saya tidak banyak mengenal makanan selain masakan rumah. Karena itu, ketika pertama kali membaca sebuah buku anak-anak yang bercerita tentang zuppa soup, makanan itu terasa begitu asing hingga saya perlu membacanya berulang-ulang untuk sekadar membayangkan bentuk dan rasanya.
Saya masih ingat bagaimana saya sempat meragukan eksistensi makanan ini. Mungkin ini hanya menu khayalan si penulis.
Tapi jika ini adalah makanan sungguhan, berarti hebat sekali kehidupan si penulis sampai dia bisa menuliskan makanan seperti itu. Dia pasti pernah mencobanya, dan bukan cuman sekali, mungkin berkali-kali, pikir saya saat itu. Saya iri.
Karena bagi saya, zuppa soup terdengar seperti kemewahan—sesuatu yang keberadaannya begitu jauh dari dunia saya, apalagi untuk sampai saya bisa mencobanya suatu waktu nanti.
Seiring berjalannya waktu, akhirnya saya berkesempatan untuk mencobanya. Namun, tidak seperti makanan asing lain yang biasa disajikan sebagai menu utama, zuppa soup hanyalah makanan pendamping. Dan sebagai appetizer, harga satu porsinya saat itu masih terlalu mahal untuk bisa dinikmati berkali-kali. Jadi, sampai titik itu pun, zuppa soup masih menjadi sebuah kemewahan.
Sepertinya, pengalaman-pengalaman kecil itu tertanam cukup dalam di alam bawah sadar saya. Ada ego dan imajinasi masa kecil yang terasa perlu dipenuhi setiap kali saya melihat pilihan makanan ini di buku menu.
Maka, setiap kali memesan zuppa soup, mungkin saya sebenarnya sedang membahagiakan inner child saya—anak kecil yang dahulu hanya mampu membayangkan wujud dan rasanya dari sebuah buku.
Dan hari ini, saya bisa membeli zuppa soup kapan pun saya mau, meskipun sering kali rasanya hanya nikmat di kepala saja.
