Pagi itu ponselnya berdering, tanda sebuah panggilan masuk. Lalu dilihatnya lah nama pada layar ponsel nya itu, ‘Sun’. Seketika nafas nya terhenti, bibirnya sedikit tersenyum, pipinya memerah. Dihitungnya sampai 3, baru kemudian diangkatnya telefon itu. Begini isi percakapannya :
Apa kabar?
Masih hujan. Entah sampai kapan. Aku mau pergi.
Kamu?
Sama. Hujan terus sejak kau pergi.
Tapi akan segera berhenti.
Ada matahari?
Ada. Masih bisa menunggu kan?
Sampai kapan?
Hitungan ke-100
‘satu. dua. tiga. ……… ‘. Ia pun mulai behitung. Lalu pada hitungan ke 99, sebuah mobil merah memasuki pekarangan rumah tempat sedari tadi ia menunggu. Sang Matahari telah tiba. Dengan payung terkembang dan sedikit berlari, ia menghampirinya. Sedang yang dituju, tak juga melepas pandang darinya.
Basah. Kita pergi sekarang?
‘kupikir aku akan lebih dulu pergi sedang hatiku masih hujan ga karuan’. ucapnya sambil berjalan menunduk dalam dekapannya.
Sepertinya April sedang berpihak pada kita. Karena sisa hujan akhir musim telah membawamu kepadaku. Ucapnya sambil berbisik dan melepaskan pelukannya karena mereka telah tiba di depan pintu mobil.
dan tidak lama kemudian mobil itu pun pergi menembus rintikan hujan yang kian deras, meninggakan pekarangan dan melaju entah kemana. Dua hati itu sedang merindu menyusuri seluruh penjuru kota. Tidak banyak percakapan diantara mereka, karena tatapan dan senyuman telah berbicara banyak sekali tentang perasaan mereka. Begitulah hari itu berakhir bagi keduanya. Menjadi sekeping memori indah untuk dikenang. Di bawah guyur hujan sisa akhir musim, mereka bertemu.
######
1 tahun yang lalu
Hujan, Mendung, atau Cerah?
‘Mendung’
Aku juga.
Dan mereka tersenyum, lalu saling pergi berjauhan.
