Maaf, karena telah kuletakkan hatiku di antara kata, tawa, senyum, dan amarah kita. Dan aku selalu menyebut-nyebut namamu dalam lisanku yang kaku. Berkali – kali. Sehingga aku terlihat seperti orang yang paling tahu dan membutuhkanmu.
Have a WordPress.com account? Log in now.