Lampu sorot telah dinyalakan. Gamelan mulai dimainkan. Tirai pun perlahan – lahan terbuka. Menampilkan para lakon yang kan bercerita. Lalu mereka berjajar dan bergandengan, membungkuk, mengucap salam. Selamat menyaksikan, katanya. Lima detik kemudian, tirai kembali tertutup, menelan kembali para lakon ke belakang pentas.
Pertunjukan pun dimulai. Satu-dua lakon bergantian tampil bermain dan beradu peran, diatas pentas. Saling berlagak dan bertukar cakap mengikuti alur cerita dan arahan sutradara. Untuk menuju akhir cerita yang baik, yang apik, yang telah disepakati.
Jika kita boleh menyamakan, maka dunia adalah sebuah panggung pentas dan kita adalah lakon yang berperan. Yang mesti berlagak dan bercakap sesuai dengan peran yang masing – masing kita punya. Itukah anak, ibu, bapak, guru, pemimpin, pasukan, kawan, ataupun orang lain. Sedang sutradara kita, adalah takdir.
Jadi, cobalah bayangkan, bagaimanakah kiranya yang kan terjadi jika seandainya dalam pementasan itu, para lakon bertindak dan bertanduk semau dirinya saja? Akankah ada kisah dan akhir yang indah?
Bahwa kita hanya perlu untuk menempatkan diri secara tepat. Pada waktu dan tempatnya.
