Mémoire


  • Tak Sekuat Itu

    Ternyata hatiku tidak sekuat itu. Untuk menyimpan amarah kepadamu. Untuk berhenti berbicara kepadamu. Atau sekedar berpaling dari tatapanmu. Ternyata aku tidak sekuat itu. Pada akhirnya pertahananku tetap runtuh, saat kamu datang dan duduk bersama di dekatku. Meski ingin sekali ku bangkit dan bersembunyi, tapi kemudian kamu masuk ke dalam percakapan kami. Dan kamu terus mencoba…


  • Tentang Kata

    Bagiku, kata lebih dari sekadar bahasa. Karena aku bisa jatuh cinta hanya dengan kata. Pun membenci hanya karena kata. Dari kata, aku bisa tahu seberapa pintarnya dirimu. Seberapa santunnya hatimu. Atau seberapa kejamnya jiwamu. Kata itu lebih dalam dari lautan yang kau seberangi. Lebih tinggi dari gunung yang kau daki. Kau dapat menerbangkan seseorang atau…


  • Rintik Pertama

    hari Kamis, tanggal Satu, bulan Sebelas, tahun Dua Ribu Delapan Belas pukul Satu lewat Sebelas dinihari inilah rintik pertama hujan musim ini yang terjatuh, mengaduh, terpecah menyatu dengan sisa – sisa aspal yang menguap terbakar seharian tadi lalu bersatu, bercampur, tercipta petrikor yang amat dirindu penduduk kota sejak dua bulan lamanya di pinggiran toko, gadis…


  • Salah

    Maaf, karena telah kuletakkan hatiku di antara kata, tawa, senyum, dan amarah kita. Dan aku selalu menyebut-nyebut namamu dalam lisanku yang kaku. Berkali – kali. Sehingga aku terlihat seperti orang yang paling tahu dan membutuhkanmu.


  • Hanya Kamu

    Apa mimpimu? Sesuatu. Tapi aku gabisa mewujudkannya sendiri. Kenapa? Karena mimpi itu kudapatkan dari orang lain. Jadi kamu mencurinya? Tidak sepenuhnya. Karena itu juga mimpiku sejak lama. Apa? Menjadi yang terpenting baginya. Membantu mewujudkan mimpinya. Dia tahu? Baru saja aku memberi tahunya. …. Lalu kupercepat langkahku hingga ku berjalan 2 langkah di depannya. Sedang ia…